Proses Mediasi Pernikahan

Mediasi Pernikahan

Mediasi pernikahan adalah salah satu alternatif penyelesaian sengketa. Dalam prosesnya diperlukan jasa mediator yang berperan sebagai penengah. Menurut seorang ahli bernama Gary Goodpaster, mediasi didefinisikan sebagai upaya negosiasi yang bertujuan memecahkan masalah dengan bantuan pihak luar yang bersifat netral dan tidak memihak dengan pihak manapun.

Sehingga bisa dikatakan mediasi adalah upaya dimana saat ada dua belah pihak atau lebih yang bersengketa menunjuk pihak ketiga sebagai pihak netral. Tujuannya untuk membantu berdiskusi menyelesaikan masalah yang dihadapi. Mediasi dilakukan dengan bantuan mediator dengan tujuan mendapat win-win solution. Yakni kebutuhan yang saling memuaskan masing-masing pihak.

Mediasi dilakukan untuk problem solving dan bukan untuk mencari siapa yang menang atau kalah. Agar proses berjalan lancar, maka dibutuhkan mediator yang memang berkompenten sebagai fasilitator guna membantu para pihak mengklarifikasi kebutuhan dan keinginan masing-masing. Mediator juga berperan untuk memadukan dan meluruskan segenap perbedaan pandangan.

Adapun dalam pernikahan, sengketa yang dimaksud bisa berupa masalah dalam rumah tangga yang menyebabkan salah satu pihak mengajukan gugatan cerai. Dalam islam sendiri juga mengenal istilah mediasi pernikahan.  Mediasi dilakukan dengan bantuan hakamain yang sudah ditunjuk dari kerabat kedua belah pihak. Hal ini seperti yang tercantum dalam surah An-Nisa ayat 35. Dimana penunjukan hakamain dalam sengketa pernikahan, terutama syiqaq sudah diintegrasi di dalam poses acara di kantor Pengadilan Agama. Hal ini terbukti dengan adanya peraturan KHI (Kompilasi Hukum Islam) pasal 76 ayat 2.

Proses Mediasi Pernikahan

Proses mediasi pernikahan telah ditetapkan berdasar Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 th 2007. Ada pula peraturan Nomor 2 th 2003 seputar prosedur mediasi di pengadilan. Adanya dasar hukum ini memastikan bahwa proses mediasi terutama yang berkaitan dengan perkara pemutusan pernikahan atau perceraian sudah cukup jelas.

Dalam praktiknya di lapangan, mediasi dilakukan bila ternyata dari salah satu pasangan nikah tidak menyutujui adanya perceraian. Sebagai contoh, pihak istri mengajukan gugatan cerai namun ternyata pihak suami pada sidang pertama menyatakan tidak berkenan bercerai. Dengan demikian, akan diatur proses mediasi. Untuk memberi gambaran lebih jelas, berikut detil lebih lengkapnya:

  • Sidang Pertama

Pada waktu sidang pertama berlangsung, pihak majelis hakim akan melengkapi sejumlah berkas yang dibutuhkan untuk persidangan. Diantaranya kelengkapan surat gugatan, surat panggilan para pihak, surat kuasa, dan lainnya.

  • Mediasi Sebelum Perceraian

Sesuai dengan prosedur, maka pihak hakim akan memberi penjelasan bahwa mediasi pernikahan dapat diadakan sebelum proses cerai berjalan. Pihak hakim juga akan menanyakan apakah sudah memiliki mediator, jika belum hakim akan menentukan seorang mediator guna memimpin proses mediasi.

  • Penentuan Mediator

Hakim akan menentukan hakim lain yang akan menjadi mediator. Meski mediator ditunjuk dari hakim, tapi mediator tidaklah sama dengan hamik atau arbiter. Khususnya menenai wewenang yang dimiliki. Mediator tidak memiliki wewenang memutuskan sengketa para pihak dalam hal ini suami dan istri. Mediator dalam mediasi perceraian hanya bertugas membantu para pihak dalam menyelesaikan persoalan yang ada. Wewenang itu pun jika para pihak menguasakan kepada mediator yang ditunjuk untuk membantu penyelesaian sengketa.

  • Mediasi Berlangsung

Mediasi berjalan di ruang khusus yang masih bertempat di kantor Pengadilan Agama. Adapun proses mediasi sebanyak-banyaknya dilakukan 2 kali. Bila ternyata dari proses mediasi pernikahan tidak didapati kesepakatan rujuk, maka proses perceraian akan mulai dilaksanakan.

Leave a Reply