Hak Asuh Anak dalam Perceraian

Pada umumnya banyak kasus perceraian yang menimbulkan persoalan baru yang berkelanjutan selain berupa pembagian harta bersama atau harta gono gini namun juga dalam perebutan anak yang lahir di masa pernikahan. Pertikaian yang disebabakan oleh perebutan anak tidak hanya berpotensi menimbulkan permusuhan diantara dua pihak yang bersengketa, namun juga menyakiti psikologi anak. Oleh karena itu  agama dan hukum negara dengan jelas dan tegas mengatur sedemikian rupa mengenai hak asuh anak, tujuannya adalah untuk meminimalisir berbagai masalah yang muncul akibat persengketaan tersebut. Tidak ada yang diuntungkan dalam peristiwa perceraian, ikuti aturannya jangan sampai anak-anak menjadi korban.

Hak Asuh Anak dalam Perceraian

Tidak ada aturan baku yang dapat menjadi kunci bagi hakim dalam memutuskan pemegang hak asuh anak, apakah Ayah atau Ibu. Hingga saat ini dalam perkara perceraian hanya terdapat beberapa aturan dalam undang undang yang akan menjadi rujukan bagi hakim dalam memutuskan siapa yang berhak atas hak asuh anak setelah mempertimbangkan beberapa fakta yang terungkap selama persidangan berlangsung. Sebenarnya bagaimana sebenarnya prosedur dari hak asuh anak tersebut?

Ada banyak yang menjadi bahan pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara, mengingat hakim dituntut untuk dapat berlaku dengan seadil-adilnya untuk memenuhi rasa keadilan bagi pihak-pihak yang sedang berpekara khususnya bagi anak. Selain memastikan kebutuhan anak tercukupi dari segii finansial, dalam pelaksanaan hak asuh anak ibu ataupun ayah yang diputuskan memegang hak dalam pengasuhan anak juga harus bisa menjamin keselamatan jasmani dan juga rohani anak yang bersangkutan.

Adapun jika hakim telah memutuskan salah satu pihak yang lebih berhak atas hak asuh anak, disarankan tidak ada tindakan yang akan menghalangi sang anak untuk menjenguk orang tuanya sendiri sehingga terputuslah tali silaturahmi. Karena bagaimana pun Andak-anak membutuhkan kasih sayang dan bimbingan yang utuh dari kedua orang tuanya.

Hal-hal yang Menyebabkan Orang Tua Kehilangan Hak Asuh Anak

Selain diasuh oleh ayah ataupun ibu kandungnya, dalam beberapa kasus pengasuhan sang anak juga dapat beralih pada kerabat terdekat  jika terdapat beberapa kondisi yang tidak memungkinkan sang anak untuk mendapatkan pemeliharaan dari kedua orang tuanya seperti dalam peristiwa kematian. Hal lainnya yang juga bisa menghilangkan hak orang tua untuk mengasuh anaknya adalah tidak terjaminnya keselamatan jasmani dan juga rohani anak.

Dalam hal ini kerabat yang akan mengambil alih hak asuh anak yang bersangkutan harus mengajukan permohonan hak asuh anak ke Pengadilan Agama, dalam rangka untuk memindahkan hak asuh anak kepada kerabat memiliki hak asuh. Dalam masalah ini siapapun pihak yang mengambil alih pengasuhan anak, hingga anak dinyatakan dewasa atau berusia 21 tahun sang ayah tetap bertanggung jawab untuk mengasuh dan memberikan nafkah sesuai dengan kemampuannya,

Adapun pihak-pihak yang bisa mengambil alih hak asuh anak adalah :

  • Wanita-wanita yang masih berada dalam garis lurus ke atas dari ibu.
  • Wanita-wanita yang masih berada dalam garis lurus ke atas dari ayah.
  • Saudara perempuan dari anak tersebut
  • Wanita-wanita kerabat sedarah berdasarkan garis samping dari ayah.

Pembicaraan mengenai seluk-beluk hak asuh anak dapat dikomunikasikan dengan lembaga-lembaga yang tepat, profesional dan handal dibidangnya, sehingga diperoleh solusi yang tepat. Selain menjadi media yang tepat untuk mengkomunikasikan prihal hak asuh anak, kami juga membuka layanan, perceraian, mediasi perkawinan, harta gono gini,  harta waris, hibah dan wasiat.

2 Comments

Leave a Reply