Dampak perceraian terhadap anak

Cerai dalam arti kata berpisah, mengakhiri hubungan pernikahan. Menurut para ahli dan undang-undang perceraian adalah putusnya hubungan perkawinan yang sah di depan hakim pengadilan sesuai dengan syarat yang ada pada undang-undang. Perceraian hak asuh anak harus diputuskan di pengadilan untuk melindungi kewajiban dan hak yang akan timbul akibat dari perceraian tersebut.

Prosedur perceraian dengan mengajukan surat gugatan kepada pengadilan yang dibagi ke dalam 2 jenis yaitu: Gugatan istri, yaitu gugatan yang diajukan oleh pihak istri dan gugatan cerai suami (yang telah menjatuhkan thalaq).

Terlepas dari siapa yang mengajukan gugatan, perceraian pasti menimbulkan dampak sebagai akibat dari perceraian tersebut, dampak yang akan muncul setelah terjadi perceraian bisanya dialami oleh perceraian hak asuh anak dan dampak yang lain yang akan muncul untuk:

  1. Mantan suami dan istri

Manusia dilengkapi dengan akal dan rasa kasih sayang, bagaimana pun setelah bercerai pasti ada efek dimana mantan suami atau istri masih memiliki perasaan sayang, seseorang yang sudah bercerai bisa dengan mudah mengatasi dampak ini ada juga yang masih sulit menerima kenyataan. Apalagi mereka harus menjalani perceraian hak asuh anak.

  1. Anak

Jika perkawinan yang sudah dijalani telah mendapatkan anak dampak perceraian akan sangat dirasakan oleh pihak anak. Mereka akan kehilangan kebersamaan terhadap kedua orang tuanya, kasih sayang yang mereka peroleh tidak akan sama lagi. Perceraian hak asuh anak akan diperebutkan oleh kedua belah pihak tidak jarang hal tersebut membuat anak terganggu psikologinya. Anak akan menjadi sensitif bila mereka sudah ada pada fase mengerti apa itu perceraian, banyak khasus anak yang jadi nakal, merasa marah pada keadaan karena perceraian orang tuanya.

  1. Harta benda

Dalam sebuah hubungan perkawinan yang telah di jalani bertahun-tahun pasti sudah ada yang namanya harta bersama. Harta bersama ini harus dibagi secara adil dan rata namun tidak semua hal tentang harta benda bersama ini berjalan dengan mulus, ada saja perselisihan di antara keduanya sebagai contoh rumah yang telah dibangun bersama dan telah ditempati bersama anak-anaknya saat cerai otomatis rumah tersebut menjadi harta bersama jika tidak ada perjanjian sebelumnya, saat sang ayah menginginkan rumah itu di jual dan sang ibu ingin rumah itu dihuni anak-anaknya maka terjadilah gugat menggugat harta benda.

Alasan suami atau istri memutuskan untuk bercerai beragam bisa karena sudah tidak cocok, sering bertengkar dan salah paham, sudah mendapatkan orang lain yang jauh lebih baik dari mantan pasangan,  kekerasan dalam rumah tangga, sang istri yang tidak mau di madu dan banyak lagi. Keputusan untuk berpisah dirasa berat apalagi jika hubungan perkawinan sudah berjalan lama, ada banyak perasaan yang akan dikorbankan perceraian hak asuh anak juga akan terjadi (jika punya anak lebih dari satu). Perceraian hak asuh anak bisa berakibat fatal apabila ada yang tidak terima, bisa jadi mereka membenci saudaranya sendiri dan menganggap orang tua tidak adil memberikan kasih sayang, kegagalan orang tua dalam memberikan pengertian kepada anak menjadi satu dari penyebab anak merasa menderita setelah perceraian untuk itu jika anda bercerai sebaiknya urusan tersebut diselesaikan tanpa melibatkan anak, biarlah mereka menganggap bahwa orang tuanya baik-baik saja, secara perlahan beri mereka pengertian, berikan perhatian lebih kepada mereka agar anak tidak merasa kekurangan kasih sayang dari orang tua.

Leave a Reply