Cara gugatan hak asuh anak seorang ayah dikabulkan pengadilan

Sering kita mendengar kasus perceraian yang tidak selesai-selesai karena masalah tuntut menuntut hak asuh anak, gugatan hak asuh anak sudah biasa dilayangkan selama proses pengadilan. Sebenarnya apa itu gugatan hak asuh anak? Bagaimana mekanismenya di mata hukum?

Pengertian gugatan hak asuh anak

Setiap gugatan yang diberikan kepada tergugat ada namanya alasan, untuk gugatan hak asuh anak sendiri berarti penggugat menginginkan hak asuh anak dari si tergugat. Penggugat dan tergugat ini biasanya adalah mantan suami dan mantan istri. Gugatan hak asuh anak di ajukan setelah proses perceraian sebagai upaya untuk melindungi, memelihara dan mendidik anak hasil pernikahan mereka. Kasus yang sering terjadi orang tua terlalu  egois mementingkan egonya ketimbang anak mereka, mereka akan berebut hak asuh anak karena tidak ingin sang mantan hidup jauh lebih bahagia ketika sudah tidak bersama dia.

Mekanisme pengajuan gugatan hak asuh anak

Syarat yang harus dipenuhi penggugat untuk mengajukan surat permohonan kepada pengadilan. Surat permohonan, dilengkapi dengan fotocopy kutipan akta cerai/ akta nikah, akta kelahiran sang anak (apabila memiliki anak lebih dari satu maka semua akta kelahiran diserahkan) dan membayar biaya pengajuan perkara.

Proses pengajuan gugatan

  • Surat gugatan tertulis disampaikan kepada pihak pengadilan di wilayah tempat tinggal atau bila tidak tahu dimana tempat pengadilan wilayah, surat gugatan diajukan ke pengadilan agama

  • Setelah membayar biaya pengajuan perkara dan melengkapi berkas-berkas si penggugat akan diberikan nomor registrasi oleh panitera. Panitera yang akan memutuskan majelis hakim dalam kasus gugatan hak asuh anak yang telah disampaikan.

  • Kedua belah pihak (penggugat dan tergugat) di panggil oleh pengadilan untuk menghadiri acara persidangan.

  • Tahap persidangan

Dalam tahab persidangan ada mekanismenya yaitu:

  1. Pada sidang pertama hakim berusaha untuk mendamaikan kedua belah pihak (penggugat dan tergugat). Jika perdamaian gagal selanjutnya dengan cara mediasi, apa bila mediasi ternyata juga gagal, sidang akan dilanjutkan

  2. Gugatan dilanjutkan dengan membacakan surat permohonan gugatan yang sebelumnya telah diberikan pihak penggugat

  3. Tahab selanjutnya yaitu kedua belah pihak diajukan pertanyaan dan saling memberikan jawabannya.

  4. Pembuktian kebenaran dari apa yang telah disampaikan sebelumnya

  5. Apabila pihak tergugat tidak terima maka bisa mengajukan gugat balik atau gugat rekonvensi.

Point lima diambil apabila tergugat merasa tidak terima dengan hasil keputusan. Ada catatan tambahan yaitu: apabila gugatan telah dikabulkan namun penggugat tidak terima bisa mengajukan banding, dan apabila gugatan di tolak tidak bisa mengajukan banding namun pihak penggugat masih bisa mengajukan gugatan hak asuh anak baru.

Jika tidak ingin gugatan hak asuh anak ditolak (gugatan sang ayah)  ada sebaiknya melakukan cara pembelaan diri yang berkaitan dengan Kompliasi Hukum Islam pasal 15 point c yang kesimpulan bunyinya yaitu

“jika seorang ibu atau seorang  ayah tidak dapat memberikan jaminan keselamatan jasmani sertarohani anaknya, walaupun biaya nafkah sudah dipenuhi, maka atas perintah dari orang tua yang lain (ayah/ibu) pengadilan agama dapat memindahkan hak asuh anak kepada orang tua yang lain yang memiliki hak asuh anak pula”

Jika seorang ayah ingin gugatan hak asuh anak dikabulkan pengadilan maka buat alasan yang tidak jauh dari pasal tersebut, seorang ayah jangan membuat alasan mengenai masalah ekonomi misalnya ayah lebih mapan secara ekonomi sementara mantan istrinya tidak bekerja  hal itu bisa kalah karena bunyi pasal 156 KHI point d yang menyatakan bahwa biaya untuk pemeliharaan anak merupakan tanggung jawab seorang ayah sampai anak dewasa dan bisa menghidupi dirinya sendiri, cara tersebut dipakai untuk bisa memperoleh hak asuh anak yang berada di bawah usia 12 tahun karena dalam ketentuan KHI anak di bawah 12 tahun hak asuhnya berada di tangan ibu.

2 Comments

Leave a Reply